Header Ads

Inilah Uniknya Desa Pegayaman di Bali

Desa Pegayaman terletak di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, tepatnya berada di lereng Bukit dekat dengan obyek wisata air terjun Gitgit, jarak tempuh dari Kota Singaraja sekitar 12 km sedangkan dari Kota Denpasar kurang lebih 70 km.

Desa yang berada di belahan utara pulau bali ini, tidak lah sulit untuk menuju  lokasi desa, walaupun berada di balik bukit namun  mendekati jalan masuk Pegayaman tampak  papan penunjuk arah menuju Desa Pegayaman. 

Jalan raya sepanjang menuruni bukit yang membelah Bali bagian utara dengan wilayah selatan dari bedugul akan melalui  permukaan aspal yang mulus, sedangkan jalan menuju desa yang lebih sempit. Sesampai Di desa Pegayaman tampak jalan - jalan sepanjang desa diperkeras dengan semen.

Desa Pegayaman ini keberadaannya sudah lama dan termasuk salah satu desa tua di Bali, sebagian besar penduduk bertani dan berkebun, ini terlihat dari deretan pohon cengkeh dan kopi disepanjang desa. Uniknya sebagian besar penduduknya adalah Muslim dan dalam kesehariannya masyarakatnya menyerap kebudayaan Bali,  namun tetap menjaga kemurnian ajaran Islam. Beberapa hal unik yang dapat dijumpai di Desa Pegayaman.
  • Masyarakatnya memakai nama urutan keluarga sesuai tradisi Bali, seperti untuk anak pertama nama depannya membubuhi nama Wayan, Putu, atau Gede, anak kedua Made, Kadek, atau Nengah, anak ketiga  Nyoman, Komang, atau Koming dan Ketut untuk anak keempat, setelah itu baru memakai nama Islami. 
  • Bahasa yang dipakai dalam kehidupan kesehariannya adalah Bahasa Bali.
  • Menjelang hari raya Idul Fitri dipakai istilah "Penampahan" ini mengingatkan akan istilah yang sama dalam Hari Raya Galungan pada Umat Hindu di Bali. Saat penampahan ini para ibu di desa ini mulai menyiapkan makanan untuk esok hari raya, masakan yang dibuatnya pun dengan bumbu khas bali, seperti memasak gorengan daging sapi yang dimasak dengan bumbu lengkap,  rumbah, sambel nyuh (sambal kelapa), dan be mesere dan lainya.
  • Saat lebaran suguhan untuk para tamu yang berkunjung silahturahmi adalah jajanan kue khas bali seperti Tape Uli, panganan ini juga disuguhkan saat perayaan Iedul Fitri, Iedul Adha, dan Maulid Nabi.
  • Tradisi mengirim aneka makanan lebaran ke para tokoh / orang yang dituakan di lingkungan kerabat saat lebaran, tradisi ini mirip dengan "Ngejot" di Bali, dipegayaman memakai istilah sidekah (shodaqah).
  • Setelah lebaran Iedul fitri, juga ada istilah  Manis Lebaran,  inilah saat masyarakat melakukan bepergian berdarmawisata dengan membawa bekal makanan dari rumah.
  • Desa ini memiliki tarian dengan iringan lagu yang khas bernama burda, seorang pria menari dengan kostum berpadukan pakaian khas Bali.

No comments:

Powered by Blogger.